Bahasa Alay Bentuk
Pemberontakan Anak Muda
 |
Komnas Anak,
Seto Mulyadi (batik) (Foto: Okezone)
|
JAKARTA - Kalangan anak muda memang terbilang paling
banyak yang mengaktualisasikan bahasa alay dalam
pergaulan sehari-hari. Menurut Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan
Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi (Kak Seto), penyebab maraknya penggunaan bahasa alaymerupakan bentuk pemberontakan anak muda.
"Remaja itu perlu diperhatikan, kreatifitas
remaja ini dipasung, harus lurus, nurut sama orang tua tetapi tidak dihargai
kreatifitasnya jadi mereka melawan orang tua dengan membuat bahasa
sendiri," katanya kepada Okezone, Rabu (19/3/2014).
Salah satu cara untuk mengikis bahasa alay, sambung Kak Seto, sapaan akrabnya adalah dengan
mengkampanyekan berbagai kegiatan menulis, dan berpidato, yang tentunya dalam
muatan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Sekedar diketahui belakangan ini, kita sering
disuguhkan dengan istilah-istilah baru dan aneh dalam berkomunikasi. Ironisnya,
istilah yang memelesetkan kata dari Bahasa Indonesia ini seakan menjadi
kebiasaan atau gaya hidup sekelompok anak muda yang biasa disebut alay.
Misal saja, sering kita mendengar kata lambat
diubah menjadi lambreta, barangkali
menjadi keles, banget menjadi bingit, memang menjadi emberan, remaja wanita
gaul menjadi cabe-cabean, santai
menjadi woles dan lain
sebagainya. Semua itu kini menjadi istilah baru dalam percakapan anak muda.
Celakannya, istilah ini juga sudah menjadi bahasa tulisan di jejaring sosial
yang dianggap sudah lumrah.
Opini saya :
ALAY. Atau 4L4y (iya itu lebih lebay lagi….)
semakin berkembang di negara kita ini. Apa sih sebenarnya yang dimaksud alay? Alay yang merupakan singkatan dari anak layangan, anak lebay
merupakan sebutan yang diberikan kepada mereka, kaum makhluk yang berlebihan
atau tidak seperti manusia pada umumnya.
Contoh :
 |
| Begini disebut alay, menghadapi sesuatu secara berlebihan |
Pada era ini, alay sudah
menjadi gaya hidup. Yang lebih dikenal lagi yaitu bahasa alay yang merupakan bahasa dari makhluk-makhluk tersebut.
Perkembangan bahasa alay ini sangat
tampak pada media sosial, di mana sekarang banyak tersedia berbagai jenis media
sosial seperti facebook, twitter, instagram, linked-in, pinterest, dan lain-lain. Bahasa alay di Indonesia sendiri merupakan
pelesetan dari bahasa Indonesia yang dimodifikasi menjadi lebih unik dan aneh.
Pengucapan dan penulisannya juga dibuat berlebihan seperti :
 |
| Bisa baca? Kalo tidak berarti kamu masih normal..... |
Perkembangan bahasa alay ini tentunya snagat menggangu dan
menyebalkan. Tapi bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai gaya hidup yang
modern dan kalau tidak menggunakan bahasa alay
berarti ‘lo kurang gaul men!’ . Namun, tahukah kamu kalau bahasa alay di Indonesia perlahan-perlahan
mengikis bahasa Indonesia yang baik dan benar? Dengan pengucapan dan penulisan
yang diubah-ubah, kelak akan menjadi kebiasaan dan perlahan kita pun bisa jadi
tidak paham dengan kaidah yang benar tentang bahasa Indonesia. Kelak kita jadi
tidak bisa mengajari anak cucu kita, sehingga semua keturunan yang merupakan
generasi penerus masa depan tidak mengenal bahasa bangsanya sendiri secara
benar. Menyeramkan bukan?
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mencegah
invasi bahasa alay?
Pendidikan bahasa
Indonesia menjadi kunci utamanya. Baik di sekolah maupun di rumah, kita bisa
mulai membiasakan berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dan pendidikan bahasa Indonesia bisa dibuat semenarik mungkin dan sekreatif
mungkin sehingga membuat anak tertarik sejak dini untuk mempelajari dan
menggunakannya. Saya setuju dengan pendapat Kak Seto Mulyadi yang
mengkampanyekan kegiatan berbahasa seperti pidato dan menulis, tentunya
menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai kaidahnya. Selektif dalam pergaulan
juga salah satu kunci yang penting, terutama pergaulan di media sosial.
Dengan begitu, bahasa
Indonesia akan semakin berkambang karena rakyatnya sendiri dapat mencintainya
dari awal. Di samping itu, menggunakan bahasa Indonesia lebih terkesan sopan
dan santun dibandingkan bahasa alay
yang beberapa di antaranya melecehkan. Kita pun dapat menghargai jasa para
pahlawan dengan menggunakan bahasa asli negara kita !
Saran saya, kita harus
bersama-sama saling mendukung perkembangan bahasa Indonesia dan menepis efek negative
globalisasi. Boleh saja mengikuti arus modern, asalkan kita dapat tetap
berpegang teguh pada identitas sejati bangsa kita sendiri.
Sekian pendapat yang bisa
saya sampaikan. Terima kasih bagi yang sudah membaca.
MERDEKA BANGSAKU ! YOOM…TAH
! (J.Alvin)